Kamis, 29 Oktober 2009

Dampak Komunikasi media elektronik dan massa terhadap diri sendiri

Di jaman sekarang ini kita sedang di manjakan oleh salah satu alat komunikasi elektronik yang bernama Telivisi.Sehingga sehari-hari laksana satu detik, seminggu laksana satu jam dan setahun laksana sehari. Dunia sekarang terikat menjadi satu oleh sistem elektronik yang menyalurkan berita dan data, yang buruk dan yang baik, yang benar dan yang salah, dengan kecepatan cahaya keseluruh penjuru dunia yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Sistem ini telah mengubah tingkah laku dari yang tenang menjadi agresif. Bahkan dengan sistem informasi ini membuat keamanan negara menjadi terancam.
Kebanyakan orang mungkin cenderung mengatakan bahwa perubahan dramatik yang terjadi adalah merupakan pencapaian setiap revolusi dari zaman ke zaman. Namun, ada satu hal yang tak pernah di fikirkan oleh diri kita sendiri, kecuali tokoh seorang Stalin ketika Leon Trotsky mengusulkan untuk membuat jaringan telepon modern di negara Soviet yang baru pada tahun-tahun awal revolusi di Rusia. Jawab Stalin sungguh mencengangkan dan dengan kasar, menjawab, “Saya tidak pernah membayangkan alat kontra-revolusi di pakai untuk dalam kehidupan kita.”
Televisi merupakan suatu alat revolusi yang terbukti ampuh mencekoki kita dengan beberapa menu yang sangat menarik bagi semua kalangan. Televisi tidak lagi mempedulikan mentalitas pemirsanya. Ini artinya di mulai dari yang namanya TELEVISI seseorang akan mampu bertindak sesuai dengan apa yang terlihat di Televisi. Benar-benar Ajaib
Diskursus budaya massa plus budaya media, boleh jadi dua diskursus yang banyak di gemari oleh banyak kalangan di Indonesia saat ini. Perbincangan terhadap ke duanya sudah sangat akrab di dunia media massa. Ini sama halnya ketika kita melihat perkembangan kedua ragam budaya kontemporer tersebut yang tampaknya kian mewarnai kehidupan masyarakat kita.
Apa itu budaya massa atau orang menyebutnya sebagai budaya populer ? Budaya massa (mass culture) seperti yang di sebutkan oleh Jary dan Jery, dalam Collins Dictionary of Sociology (1991), adalah produk-produk budaya yang relatif terstandarisasi dan homogen, baik berupa barang maupun jasa, dan pengalaman-pengalaman kultural yang berasosiasi kepadanya, yang di rancang untuk merangsang kelompok terbesar dari populasi masyarakat. Adalah tak begitu sulit, kiranya menandai pola yang mendasari budaya ini. Biasanya budaya massa ini sering di asosiasikan pada ukuran-ukuran konsumtif suatu masyarakat.
Berdebat persoalan budaya massa, paling tidak ada tiga esensi yang tak bisa di lepaskan begitu saja (Hikmat Budiman Lubang Hitam Kebudayaan : 2002). Pertama Persoalan daya tarik. Orang banyak memandang budaya massa dari segi daya tariknya yang mampu menyedot dalam jumlah dan jangkauan yang begitu luas. Dalam konteks ini, persoalan budaya massa di lihat dari muatan apa yang terkandung di dalamnya sehingga membentuk persepsi masyarakat di mana-mana yang terkadang dan sering kali persepsi tersebut menjadi suatu ukuran (standart) dalam bertingkah laku dan tanpa sadar dunia persepsi telah merasuki pola fikkir kita sehari-hari . Kedua pada persoalan pengaruh, baik pengaruh yang positif maupun yang negatif yang di timbulkannya. Baik itu pada bentuk praktek-praktek dan pengalaman kultural yang lebih lama, maupun terhadap masyarakat yang menjadi pendukungnya secara keseluruhan. Dan Ketiga adalah persoalan yang sering kali luput dari pandangan dan agaknya naif jika kita hanya pada persoalan daya tarik dan pengaruhnya, positif dan negatif, semata. Tanpa melihat medium yang sanggup menyebarluaskan budaya massa tersebut. Hal inilah yang akan menjadi bahasan kita kali ini.
Pada konteks inilah, peran media massa dalam perkembangan budaya massa di pertanyakan. Menjadi menarik kemudian keberadaan media massa kini ternyata telah berkembang tidak lagi sesuai dengan desain tradisionalnya sebagai pembawa informasi semata, terlepas dari konstruksi ideologis apapun. Lebih dari itu, dalam prosesnya ternyata beragam bentuk media massa tersebut telah menjadi sosok yang berkekuatan besar yang menyedot masyarakat ke dalam apa yang di sebut Douglas Kellner dalam bukunya Media Culture : Cultural Stadies, Identity and Politics Between the Modern and Posmodern (1995), Sebagai budaya media (media culture). Menurudnya, budaya media mununjuk pada suatu keadaan di mana tampilan audio-visual telah membantu merangkai kehidupan sehari-hari kita, mendominasi proyek-proyek hiburan, membentuk opini politik dan perilaku sosial, bahkan membantu memberikan suplai materi untuk membentuk identitas seseorang.sehingga tak jarang pula yang terjebak pada dunia uthopish. Sekedar memberikan gambaran lihatlah duni pertelevisian kita yang di dominasi oleh sinetron-sinetron yang serba glamour dan tentunya menghadirkan bintang film yang cantik-cantik serta ganteng ganteng. Di era seperti sekarang ini, media- terutama televisi adalah suatu bagian yang tak terpisahkan begitu saja dari konstruksi realitas yang kita hidupi. Hampir setiap saat kita jumpai beragam realitas yang hadir lewat sebuah media (televisi) maupun media masa (majalah), yang boleh jadi membentuk kesadaran kita secara langsung atau tidak.
Adalah Cristanto P. Raharjo, mantan pekerja berita televisi, dosen, dan kolumnis budaya pop yang sangat gerah dengan televisi kita sekarang ini. (Majalah tegalboto hal 81: edisi September tahun 2004).Dalam esainya yang meskipun pendek Cristanto memuntahkan kekecewaannya terhadap fenomena pertelevisian kita. Ia menghantam vonis ke jantung manajeman televisi dan pemodal. Dua elemen inilah yang paling bertanggung jawab terhadap begitu kuatnya mencekoki kita dari adanya, darah, kekerasan, dan berbagai tayangan yang cinta pada formalitas atau lebih spesifiknya pendangkalan nalar. Akhirnya siapa lagi yang jadi korban kalau bukan masyarakat sebagai konsumen televisi. Ia menambahkan begitu banyaknya kekerasan yang terjadi di televisi atau lebih jelasnya kasusnya perceraian di kalangan artis akan membuat ambang toleransi seseorang terhadap kekerasan meningkat ataupun kesakralan suatu pernikahan hilang. Sementara para pemilik modal- yang bisa berarti negara di dalamnya juga bertanggung jawab penuh, dan menjadikan televisi kita dangkal-dangkal saja. Karena, pemodal tak akan mau meberikan uangnya, jika sebuah tayangan tak banyak menyedot banyak penonton. Wal hasil sebuah media televisi tak akan mampu survive jika tak ada dana yang masuk. Dan dalam dunia kapitalistiklah uang merupakan TUHAN yang manjur bin ajaib. Dengan kata lain dalam industri pertelevisian, baik pengelola maupun pemodal berselingkuh untuk menjadikan masyarakat sebagai obyek suatu ajaran baru. Kalau kita bicara tentang dunia pertelevisian kita terkait independensinya sebagai media massa patutlah di pertanyakan karena ternyata di belakang semua itu adalah kaum kapitalis yang sangat menggurita di tubuh pertelevisian kita. Bagaimana tidak lihatlah perselingkuhan mereka dengan dunia kapitalis yang mana ada MNC (Multi National Coorperation )maupun TNC (Tran’s National Coorperation). Terlalu rumit untuk di elaborasikan dalam kenyataan. Karena ternyata Masyarakat sendiripun juga membutuhkan akan hal itu. Terlepas dari butuh atau sengaja membutuhkan diri karena tidak ada aktifitas lain selain menonton dan menonton. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya lingkaran setan yang terlalu rumit untuk di uraikan

Tidak ada komentar: